MAGELANG – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di Universitas Tidar (Untidar) Magelang tahun ini mencatatkan lonjakan peminat yang signifikan. Sebanyak 16.165 calon mahasiswa bersaing memperebutkan 2.105 kursi yang tersedia melalui jalur tes tersebut.
Ketua Pelaksana UTBK Untidar, Muh Azril, mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar tahun ini naik sebesar 27,54 persen dibandingkan tahun lalu. Pelaksanaan ujian tersebar di empat titik, yakni Kampus Tuguran, Kampus Sidotopo, SMAN 4, dan SMAN 5 Kota Magelang. Menariknya, Program Studi D3 Farmasi yang baru dibuka pada jalur SNBT tahun ini langsung menjadi primadona dengan jumlah peminat mencapai 2.155 orang. [1, 2, 3]
Komitmen Inklusi dan Jalur Mandiri
Selain lonjakan peserta, Untidar kembali menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan inklusif dengan menyiapkan fasilitas khusus bagi peserta disabilitas (tuna daksa dan tuna rungu) pada sesi khusus yang didampingi asistensi panitia.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama, Prof. Dr. Suyitno, mengingatkan bahwa persaingan memang ketat karena 16 ribu peserta harus memperebutkan kuota SNBT yang terbatas. Namun, ia mengimbau peserta tidak putus asa karena masih ada jalur Ujian Mandiri (UM), termasuk jalur One Day Service (SMODS).
Insiden Kecurangan di Kampus Sidotopo
Di balik kelancaran teknis, pelaksanaan UTBK sempat diwarnai aksi tidak terpuji. Seorang peserta perempuan kedapatan melakukan kecurangan saat ujian di Kampus Sidotopo pada Selasa, 28 April 2026.
Modus yang digunakan tergolong rapi; pelaku menggunakan alat bantu pendengaran di telinga kanan serta menyembunyikan ponsel pintar dan kotak hitam di balik pakaian berlapis. Aksi ini sempat lolos dari pemeriksaan metal detector, namun gerak-gerik pelaku yang mencurigakan—seperti sering menyentuh telinga dan mengamati pengawas—akhirnya membongkar praktik culas tersebut.
“Pengawas mencurigai gelagat peserta, dan setelah diperiksa ditemukan perangkat elektronik yang disembunyikan. Alat-alat tersebut segera diamankan,” tegas Suyitno. Meski alatnya disita, peserta tersebut tetap diperbolehkan melanjutkan ujian dengan sisa waktu yang tersedia, sementara pihak universitas mencatat insiden ini untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur seleksi nasional.

